Share It

Wednesday, 18 May 2011

Perubahan Sosial: Jalan Spiritual Menuju Kekuatan Jiwa di Tengah Kesibukan Kota

PENDAHULUAN
Perubahan sosial merupakan gejala kehidupan sosial dan bersifat normal alias wajar akibat dari pergaulan hidup manusia. Kehidupan sosial bersifat dinamis sehingga tidak ada masyarakat yang tidak mengalami perubahan. Perubahan sosial tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi karena adanya perubahan di satu sisi mengakibatkan perubahan di bidang-bidang lainnya. Gejala perubahan dapat dilihat dari sistem nilai maupun norma yang pada suatu saat berlaku namun di saat lain tidak berlaku atau bisa juga dilihat dari suatu peradaban yang sudah tidak sesuai dengan peradaban masa kini (Setiadi dan Kolip, 2011).

Para sosiolog mengemukakan beberapa pendapat yang berbeda mengenai batasan perubahan sosial. Beberapa diantaranya adalah (Setiadi dan Kolip, 2011):
• William Ogburn. Batasan perubahan sosial adalah mencakup unsure-unsur kebudayaan materiil maupun immaterial dengan menekankan pengaruh dari unsure-unsur kebudayaan yang materiil terhadap unsure-unsur immaterial
• Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat
• Gillin dan Gillin mengartikan perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima. Varisasi ini disebabkan oleh perubahan kondisi geografis, kebudaayn materiil, komposisi penduduk, ideology, maupun difusi penemuan baru
• Selo Soemardjan mengartikan perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perikelakuan.

Perubahan sosial itu dapat terjadi secara lambat (evolusioner) ataupun secara cepat (revolusioner). Perubahan dikatakan lambat jika adanya rentetan perubahan kecil yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku masyarakat yang menyesuaikan dirinya dengan pergesaran sosial sesuai dengan keperluan, keadaan, dan kondisi yang baru. Sedangkan perubahan sosial dikatakan secara cepat jika perubahan itu terjadi pada dasar-dasar pokok kehidupan manusia (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan).

Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat memiliki dua macam pengaruh, yaitu pengaruh kecil dan besar. Perubahan-perubahan yang kecil pengaruhnya ialah perubahan-perubahan pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi masyarakat. Sebaliknya proses industrialisasi pada masyarakat agraris dikatakan sebagai bentuk perubahan yang besar pada struktur masyarakat karena lembaga kemasyarakatan mengalami perubahan seperti hubungan kerja.

Menurut Santosa (2010) dalam blognya mengatakan bahwa Simmel mengemukakan teori mengenai realitas sosial. Realitas sosial tersebut menggambarkan adanya empat tingkatan yang sangat mendasar. Salah satunya adalah mengenai berbagai struktur dan perubahan-perubahan yang terjadi dan terkait dengan apa yang dinamakannya sebagai spirit (jiwa, ruh, substansi), yaitu suatu esensi dari konsep sosio-kultural. Lebih lanjut Santosa (2010) menuliskan bahwa struktur-struktur yang spesifik di dalam kehidupan sosio-kultural yang sangat kompleks harus dihubungkan kembali, tidak saja dengan berbagai interaksi sosial tetapi juga dengan berbagai pernyataan psikologis.

Berdasarkan penjelasan di atas maka tulisan ini membahas perubahan sosial yang membatasi pada pengertian yang dikemukakan oleh Gillin dan Gillin, membahas perubahan sosial yang memiliki pengaruh kecil dan perubahan yang terjadi secara lambat mengenai masyarakat perkotaan yang kini beramai-ramai mengejar kelas-kelas spiritualisme, seperti yoga, meditasi, reiki, dan q-rak. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah sebenarnya yang melatar belakangi mereka mengejar spritualisme? Mengapa tren ini terjadi di masyarakat?

PEMBAHASAN DAN ANALISIS MASALAH
Jiwa adalah sumber kekuatan seseorang. Orang yang berjiwa kuat akan tampil sebagai sosok yang kuat, memiliki keteguhan kepribadian yang bisa digunakan untuk mempengaruhi orang lain dan benda-benda di sekitarnya. Kalau kita membaca karya seseorang, baik berupa karya tulis, musik, pidato, atau karya-karya seni dan ilmu pengetahuan lainnya, kita sedang memahami pancaran jiwa seseorang. Misalnya saja, kita bisa merasakan, betapa hebatnya kekuatan yang digetarkan oleh Mozart dan Beethoven lewat karya-karya musiknya. Berpuluh tahun karya mereka dimainkan dan mempesona banyak musikus atau penikmat musik di seluruh dunia. Semua itu ada kaitannya dengan kekuatan jiwa yang terpancar dari seseorang. Dengan mekanisme otak sebagai pintu keluar masuknya.

Jika kita sekadar menggunakan panca indera terhadap suatu karya, tapi hati atau jiwa kita tidak ikut dalam proses pemahaman itu, tentu kita tidak bisa merasakan besarnya energi yang terpancar. Karya itu tidak lebih hanya sebagai seonggok benda mati. Kombinasi antara panca indera dan hati akan menyebabkan kita bisa melakukan pemahaman. Tapi semua sinyalnya tetap dikirim ke otak sebagai pusat pemahaman atas informasi panca indera dan hati tersebut. Di situlah jiwa bekerja sebagai mekanisme kompleks dari seluruh rangkaian software yang ada di sel-sel otak. Jiwa adalah program-program istimewa yang dimasukkan ke dalam sel-sel otak. Program-program itu lantas berkolaborasi membentuk suatu sistem di dalam organ otak. Karena itu, setiap apa yang dihasilkan otak adalah pancaran dari aktivitas jiwa kita.

Kehidupan modern dan segala kompleksitas permasalahannya bisa menyebabkan stres atau ketegangan pikiran, kelelahan fisik yang pada akhirnya bisa merusak kulit, ketidakseimbangan hidup, ataupun gejala psikosomatik (psiko itu jiwa, soma itu badan atau raga. Kalau itu berupa penyakit maka penyakit yang secara ragawi dirasakan dan sumbernya adalah keadaan jiwa). Ketika stress, tubuh secara otomatis memfokuskan aliran darah di paru-paru dan otak, sehingga pasokan nutrisi yang dibutuhkan oleh kulit semakin berkurang. Apabila stress berlangsung cukup lama, maka kulit akan menjadi kusam dan keriput.

Seorang yang sakit tidak bisa dipandang secara terpisah antara fisik dan mentalnya. Kedokteran kejiwaan memandang orang sakit secara holistik (keseluruhan), baik secara biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual. Orang sakit secara biologis rentan mengalami kecemasan ataupun depresi yang dapat memperberat kondisi mereka. Kecemasan akan mempengaruhi proses berpikir, terutama di dalam mengambil keputusan mengenai bagaimana cara mereka untuk mendapatkan pengobatan. Mereka cenderung menjadi irasional dan mengusahakan berbagai cara untuk dapat sembuh, termasuk kembali kepada pengobatan non konvensional padahal zaman sudah semaju ini dengan teknologi yang canggih juga.

Seperti yang tertulis pada kompas.com (2011) menyatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat terus meningkat. "Gairah atau animo orang beryoga meningkat. Ini ada kaitannya juga dengan gaya hidup. Kesadaran orang meningkat pada kesehatan yang non konvensional. Karena kesehatan konvensional pada dokter umumnya hanya mengobati secara fisik," ujar Yudhi Widdyantoro, instruktur yoga dari Klinik Tirtayu Jakarta, Jumat, (6/4/2011).

Rasionalitas yang diagung-agungkan di zaman modern ini, yang dianggap sebagai suatu hasil dari proses berpikir, dimana orang memiliki kapasitas untuk memberikan alasan, untuk menjalani, memberikan kebenaran tertentu, yang selalu dikaitkan dengan sikap orang bijak, dan yang selalu ditekankan dan terus menerus dilatih oleh para dokter (IDI Bali, 2009) sebagai strategi untuk menangani masalah kesehatan pasien dengan menggunakan bukti (evidence) sehingga segala sesuatu (informasi, pengalaman, pengamatan, dan hasil berfikir induktif) yang dilihat, diamati, dibaca dan dialami membuat orang mempercayai kebenaran akan sesuatu, itu semua ternyata tidak mampu berdiri sendiri memecahkan masalah kesehatan.

Maka dari itu tidak mengherankan bahwa setidaknya dalam dua tahun terakhir ini perserta kelas-kelas spiritual, seperti yoga, meditasi, reiki, dan q-rak, mengalami booming. Lebih lanjut dikatakan oleh Yudhi Widdyantoro dalam Kompas.com (2011) bahwa peningkatan minat terhadap yoga dan kelas spiritual lainya justru mulai terlihat saat krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada tahun 1997-1998. "Itu bukan berdampak hanya pada ekonomi, tapi berdampak juga pada psikis seseorang. Dan saat itu, mulailah kesehatan-kesehatan alternatif, di mana yoga dan kelas-kelas spiritual mulai dicari orang," pungkasnya.

Minat orang terhadap yoga dan kelas spiritual semacamnya di negara-negara maju terus meningkat berkat pemberitaan dan pembahasan di media massa. Setiadi dan Kolip (2011) mengatakan media massa mengubah dunia menjadi sebuah “dusun global”. Informasi dan peristiwa yang terjadi di tempat jauh dapat ditonton jutaan orang dalam waktu yang bersamaan sehingga memberikan suguhan pengalaman kultural yang sama yang pada akhirnya menyatukan selera, persepsi dan pilihan. Selain itu, faktor lainnya yang tidak kalah berperan penting terhadap minat masyarakat di Negara maju terhadap kelas spiritual adalah semakin banyak public figure yang ikut beryoga.

Kecenderungan orang bergerak ke arah spritualisme di kota besar dibaca oleh sosiolog Universitas Negeri Jakarta Robetus Robet sebagai tanda tekanan kompetisi hidup di kota semakin besar (Koran Kompas, 24 April 2011). Pada dasarnya manusia membutuhkan spritualitas. Tetapi fenomena ini bagi masyarakat urban Indonesia tidak dilandasi pemahaman ideologis tentang yoga atau kelas-kelas spiritual. Mereka menganggap ideologi tidak penting. Yang penting adalah mereka bisa mengakses kelas-kelas masyarakat kota yang mencitrakan hidup nyaman serta tidak ketinggalan tren gaya hidup, meskipun harus dibayar dengan jumlah uang yang tidak kecil. Mereka ingin mendapatkan status sosial yang lebih baik dari kelompok lain, maka mereka mengupayakan perjuangan untuk mendapatkan status tersebut (aschieved status).

Apabila menggunakan paradigm theologies, kita dapat menyatakan bahwa dalam diri manusia mempunyai naluri gregariousness, yaitu semacam hasrat dasar, naluri, atau fitrah orang untuk menjadi satu dengan lingkungan dan manusia-manusia lain di sekitarnya (Santosa, 2011). Kelompok sosial merupakan suatu gejala yang sangat penting dalam kehidupan manusia, kerena sebagian besar kegiatan manusia berlangsung di dalamnya. Disadari maupun tidak, seseorang menjadi anggota suatu kelompok sejak ia lahir di dunia. Berdasarkan paradigm positif sebagaimana dianjurkan oleh Auguste Comte pun mengatakan bahwa bagaimana orang tidak berkelompok karena hampir semua kebutuhan hidup manusia hanya dapat terpenuhi dengan membentuk kelompok. Manusia terdiri atas unsur-unsur lahir (fisik-biologis) dan unsur-unsur batin atau kejiwaaan, eksistensi, kenyamanan, pengakuan, dan sebagainya. Kebutuhan itu hanya dapat terpenuhi jika ia terlibat dengan manusia yang lain.

Namun, fenomena pengambilan spiritualitas yang dialami di Indonesia berbeda dengan yang dialami oleh “Generasi Bunga” Amerika Serikat yang jenuh perang dan akhirnya beramai-ramai mengejar spritualisme ke Timur, belajar menyeluruh sampai kepada sisi-sisi ideology dari aliran, seperti yoga di India (Koran Kompas, 24 April 2011). Perbedaan cara pandang masyarakat urban Indonesia dengan Amerika Serikat mengenai penting atau tidaknya mempelajari idelogi dari kelas-kelas spiritual yang mereka ambil adalah karena tidak semua orang memiliki pandangan dan sikap yang sama terhadap kebudayaan yang ada

Ketidakpentingan terhadap ideologi mengenai kelas-kelas spiritual pada masyarakat urban Indonesia mengakibatkan terjadinya proses komodifikasi spiritualitas. Seperti yang diuraikan pada harian Kompas tanggal 24 April 2011 adanya sebuah perumahan di kawasan Bintaro Jaya memasang papan reklame yang menceritakan seorang ibu muda dengan anaknya sedang bermeditasi. Pencitraan itu mengindikasikan bahwa perumahan itu memiliki kenyamanan. Kelas spiritualitas yang tadinya memiliki nilai guna tersendiri, ditransformasikan menjadi media untuk mengambil keuntungan bagi pihak developer (pengembang).

Tren mengikuti kelas spiritual ini mudah diadopsi oleh masyarakat urban Indonesia adalah karena perubahan sosial ini bersifat tidak dikehendaki (unintended change) atau perubahan yang tidak direncanakan (unplanned change). Artinya di sini adalah proses perubahan ini diluar jangkuan wawasan masyarakat dan menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan. Alasan lainnya adalah karena adanya pengakuan bahwa unsure yang baru (kelas spriritual) memiliki kegunaan atau fungsi bagi masyarakat. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa unsur baru (atau apapun itu) akan ditolak oleh masyarakat jika unsur tersebut tidak memiliki nilai guna. Apalagi kelas spiritualisme erat kaitannya dengan olah jiwa dan pikiran. Alasan selanjutnya adalah adanya perubahan nilai (transformasi nilai) yang berasal dari faktor eksternal, yaitu pergeseran nilai yang mau tidak mau masyarakat akan terseret ke proses perubahan tanpa disadari. Media massa merupakan agen yang paling dominan memengaruhi transformasi nilai.

DAFTAR PUSTAKA
IDI Bali (Ikatan Dokter Indonesia Bali) “ Fenomena Ponari: Antara Kepercayaan, Rasionalitas dan Aspek Medis” 29 April 2009. http://www.idibali.org/diskusi-bulanan/fenomena-ponari-antara-kepercayaan-rasionalitas-dan-aspek-medis.php
Mikail, Bramirus. 2011. “Terapi Yoga Semakin Diminati”. Kompas.com, Jumat 6 Mei 2011. http://health.kompas.com/index.php/read/2011/05/06/16073419/Terapi.Yoga.Semakin.Diminati
Santosa, Agus. 2011. “Perkembangan dan Dinamika Hubungan Antarkelompok Sosial”. 9 Maret 2011. http://agsasman3yk.wordpress.com/2011/03/09/perkembangan-dan-dinamika-hubungan-antar-kelompok-sosial
Santosa, Agus. 2010. “Sosiologi Simmel danWeber”. 9 Agustus 2010. http://agsasman3yk.wordpress.com/2010/08/09/sosiologi-simmel-dan-weber
Setiadi, Elly M dan Kolip Usman. 2011. Pengantar Sosiologi: Pemahaman Fakta dan Gejala Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

No comments:

Post a Comment